Anak Kecil dan Kakek Subuh

Salah satu kebiasaan saya ketika bosan adalah browsing-browsing ga jelas, update facebook dan twitter. Banyak hal yang saya dapat dari kebiasaan saya ini baik hal positif maupun negatif. Hal positif yang saya dapat setelah memfollow akun-akun seperti ust @herrynurdi, @felixsiauw dan @JamilAzzaini membuat saya terus berusaha berubah untuk menjadi lebih baik lagi seperti hasil postingan twit ust herrynurdi pada tanggal 15 Oktober 2012 berikut ini :
1. Tema diskusi kami sabtu lalu: Interaksi Rasulullah bersama Anak-anak. Selain mbahas ttg Rasulullah, ada cerita menarik dr sahabat guru kami

2. Beliau pimpinan sekolah Al Izzah di Bekasi, Pak Dimas namanya. Kisah nyata yg disampaikannya begitu menggugah

3. Seorang anak mendapatkan ilmu ttg shalat dan ciri orang munafik dari seorang gurunya, dan itu tertanam dalam.

4. Seorang anak mendapatkan ilmu ttg shalat dan ciri orang munafik dari seorang gurunya, dan itu tertanam dalam.

5. Untuk shalat isya, dia masih bisa melaksanakannya berjamaah dengan baik, krn masih sore dan masih terjaga.

6. Tapi untuk shalat subuh, ini dia yang menjadi sangat berat baginya. Ayah dan ibunya tidak shalat, dan tak bangun sama sekali saat subuh

7. Jam wekker dia tidak punya, sementara ketakutannya dimasukkan golongan munafik semakin membuncah di dada anak kecil ini.

8. Maka utk mengatasinya, di berjaga, begadang menunggu subuh tiba. Utk menunaikan shalat berjamaah.

9. Tapi saat subuh tiba, ternyata diluar rumah masih gelap gulita. Dia takut utk keluar ke masjid sendirian. Di saat itulah…

10. Anak ini mendengar suara langkah kakek-kakek dengan tongkatnya, melintas di gang depan rumahnya, menuju ke masjid utk berjamaah

11. Untuk beberapa lama anak kecil ini menumpang jalan di belakang kakek tua tadi, tanpa sepengetahuan sang kakek. Sepanjang subuh

12. Sampai suatu hari, kakek ini tidak melintas lagi. Dari suara TOA masjid terdengar siaran kabar duka. Kakek Subuh itu telah meninggal dunia.

13. Pagi itu anak kecil yg menjaga shalat subuh berjamaah di masjid dekat rumahnya, menangis sejadi-jadinya. Dia merasa sangat kehilangan

14. Kematian kakek subuh itu meninggalkan luka yang dalam di hatinya. Sedih banget rasanya.

15. Ayah-Ibunya heran dan bingung, mengapa anaknya menangis demikian rupa. Padahal sang kakek tidak memiliki pertalian darah.

16. Di desaknya sang anak dengan segala pertanyaan, mengapa menangisi kakek yang tidak mereka kenal sebelumnya. Mengapa menangisi kematiannya?

17. Sang anak lalu dengan kesal menjawab, “harusnya bukan kakek itu yang meninggal. Harusnya bapak saja yang meninggal!” Kedua ortu ini shock!

18. Ayahnya kaget mendengar jawaban anaknya yang justru mengharapkan kematian dirinya. Lalu pd sang ibu anak ini bercerita

19. Tentang betapa setiap subuh kakek ini menolongnya tanpa sadar utk pergi ke masjid dan shalat jamaah. Sementara ayahnya masih tidur terlena

20. Dia marah pada ayah dan ibunya, yang tak memperhatikan bahkan meninggalkan shalat selama ini dan tak takut akan neraka.


dari petikan ceritan yang dipostingkan oleh ust herrynurdi membuat saya merenung.. anak sekecil itu sudah begitu tertanam akan ketakutannya akan neraka, anak sekecil itu sudah begitu kuatnya dalam menjalankan ajaran agamanya, lalu bagaimana dengan saya? bagaimana dengan kita? semoga menjadi pembelajaran untuk kita bersama agar dapat mempertanggungjawabkannya di akhirat kelak.


Leave a Reply