Bukan Dongeng Biasa



Pernah mendengar dongeng tidak? Kalau kamu pernah didongengi oleh ibu – ibu kita sebagai pengantar tidur , aku juga pernah jadi bagi kalian mungkin ini hal yang biasa – biasa saja. Tapi suatu hari aku pernah mendengar dongeng yang amat sangat luar biasa, ngga percaya? Begini ceritanya, tapi sebelum aku bercerita kalian harus mempersiapkan diri kalian karena ini bukan dongeng biasa. Apa kalian sudah siap? Baiklah, aku akan bercerita.


Waktu itu aku sedang dalam perjalanan pulang menuju kota Depok, dalam perjalanan kereta api yang aku tumpangi penuh sesak oleh beragam manusia dari mulai karyawan, anak – anak kuliah dan sekolah, para pedagang dan pengamen, sampai pengemis hingga pencopet. Beginilah keadaanku setiap hari, harus berjejalan dengan manusia – manusia ini bercampur dengan segala macam aroma yang ada, dari aroma makanan hingga keringat. 
Eh .. tunggu dulu kalian mau pergi kemana akukan sedang bercerita, ini baru permulaan karena ini merupakan satu kesatuan dari dongeng yang aku dengar. Nah begitu donk! Duduk! duduklah dengan tenang dan dengarkanlah ceritaku ini baik – baik, karena dongeng yang aku dengar ini luar biasa.
Sampai dimana tadi ya.. oh ya, aku yang harus berjejalan di dalam kereta. Terima kasih ya sudah mengingatkan. Ya di dalam kereta itu aku melihat seorang wanita, wanita itu bersama seorang anak perempuan berumur sekitar sepuluh tahun. Baik wanita dan anak perempuan itu sama – sama memakai baju putih dan sama – sama menggeraikan rambut panjang mereka. Keduanya pun segera menuju bangku yang saat itu kosong dan tepat persis ada di sebelahku karena orang yang duduk tadi akan segera turun di stasiun Sudirman. Lalu mereka pun duduk di bangku kosong sebelahku. Tiba – tiba anak perempuan itu berkata pada wanita itu. “Mama, ceritakan sebuah dongeng padaku agar aku tidak bosan !” ujar anak itu. “Dongeng apa ?” “Dongeng apa saja, yang penting selama perjalanan ini aku tidak mati kebosanan !” Perintahnya. Busyet, kecil – kecil sudah main perintah gimana kalo gedenya batinku. “Baiklah, mama ceritakan sebuah dongeng tapi kamu harus mendengarkan dengan baik kalau tidak.. kamu akan terhisap dalam dongeng yang mama ceritakan !” Ujar wanita itu penuh misteri. “Baik, aku pasti akan mendengarkannya.” Ujar anak itu dengan yakin. Aku pun jadi penasaran, memangnya ada dongeng yang bias menghisap pendengarnya kalau ia tidak memperhatikan? Seumur –umur baru kali ini aku mendengar hal seperti itu, apa wanita itu hanya ingin menakut – nakuti anaknya atau ia mengatakan hal yan sebenarnya entahlah aku tidak tahu. Yang pasti aku membuka telingaku lebar – lebar untuk mendengarkan dongeng wanita tersebut. 
“Pada suatu hari di negeri antah berantah, hiduplah tokoh – tokoh dongeng ternama di dunia dengan damai. Mereka saling bahu – membahu membantu sesama jika salah satu dari mereka mengalami kesulitan. Di negeri itu tidak ada kejahatan, kalau pun ada pastilah tokoh – tokoh jahat dalam dongeng yang terkenal yang melakukan kejahatan karena keinginan sang juru dongeng walaupun sebenarnya dalam hati mereka amat sangat tersiksa setiap melakukan kejahatan yang diinginkan sang juru dongeng. Hingga pada puncaknya ketika sang Juru – juru dongeng yang ada di dunia nyata meninggal. 
Para tokoh – tokoh dongeng jahat amat bergembira. Mereka pun berpesta pada malam harinya untuk merayakan kematian sang juru dongeng. “Hore… akhirnya si Juru Dongeng itu telah tiada, aku tidak perlu lagi mengejar – mengejar gadis berkerudung merah untuk ku santap!” Ujar Serigala sambil mengangkat gelas minumannya tinggi – tinggi. “Iya aku juga. Aku jadi tidak perlu mengambil Rapunzel dan memisahkan Rapunzel dari Sang Pangeran ketika ia dewasa.” Ujar seorang nenek sihir bahagia. Ia mengambil sapu tangan dari saku bajunya dan ia mulai menghapusi air matanya. “Sudahlah Nek, tidak usah sampai menangis seperti itu, bukan hanya kau saja yang bahagia aku juga. Sudah sejak lama aku selalu mengganggu Aladin karena keinginan sang Juru dongeng. Tapi kini ia sudah tiada, jadi aku bias melakukan kebaikkan – kebaikkan dalam hidupku.” Ujar Penyihir laki – laki sambil menepuk – nepuk pundak si nenek. “Iya kau memang benar. Tapi kami ini wanita tuan penyihir, sudah ratus bahkan ribuan tahun lamanya kami dicap sebagai orang jahat dan baru sekarang setelah juru domgeng tiada kami merasa bebas. Bukankah pantas bagi kami untuk menangis karena bahagia.” Ujar Ibu dan saudara – saudara tiri Cinderela. “Iya – iya kita semua yang ada di sini mengerti, bukankah kita sudah lama menantikan kematian sang juru dongeng jadi untuk apa kita bertengkar. Hari ini kita berkumpul di sini untuk merayakan karena kita bisa berbuat kebaikkan, bukankah begitu teman – teman?” ujar peri yang memberi kutukan pada putri tidur. “Iya betul kami setuju, mari kita berpesta. Rayakan kebangkitan kita!” Ujar Kakek – Nenek yang digambarkan memiliki sifat yang amat pelit dalam dongeng jepang. Hore – hore begitu teriak mereka. Para tokoh – tokoh dongeng itu larut dalam kebahagiaan dan pesta. Mereka semua tidak menyadari ada sepasang mata yang mengawasi mereka. 
“Mama , milik siapa sepasang mata itu Ma?” Tanya anak itu. Aku pun juga bertanya – tanya dalam hati. “Oh.. itu sepasang mata milik seorang mata – mata yang dikirim oleh tokoh – tokoh dongeng yang memerankan peran baik.” Ujar wanita itu. Mata – mata itu pun kembali ke tempat para tokoh – tokoh dongeng itu berumpul. ”Apa yang kau dapat, hai Mata – mata.” Ujar Cinderela. “Aku mendapatkan berita yang amat besar dan mengejutkan” “ Jangan bertele – tele, cepat beri tahu kami berita apa itu!” Sanggah Rapunzel. “Sabarlah Rapunzel biarkan dia mengambil nafasnya sejenak, sehingga ia bisa tenang dalam menceritakan informasi yang ia dapat.” Ujar Putri Tidur sambil menguap. “Tuan – tuan dan Nona – nona selain mereka berkumpul merayakan kematian sang Juru dongeng mereka juga merencanakan sesuatu.” Ujar mata – mata itu “Rencana apa?” Ujar Ibu Peri “Mereka merencanakan akan berbuat kebaikkan selamanya menggantikan kalian!” Ujar mata – mata itu. “Apa !!” Semua orang yang berkumpul berteriak, semua mata terbelalak. Mereka yang ada di temapat itu seperti melihat Hantu di siang bolong. Sesaat keadaan di tempat itu sunyi senyap. “Tidak bisa! Hal ini tidak bisa dibiarkan.” Suara pangeran dalam dongeng Cinderela memecahkan keheningan tempat tersebut. “iya aku tidak ingin mereka menggantikan aku dalam berbuat baik, bisa – bisa di dunia nyata aku akan kehilangan pengagum – pengagumku.” Ujar gadis berkerudung merah sedih. “Betul, bisa – bisa mereka semua menjauhi dan memusuhi kita karena ada contoh – contoh baru dalam berbuat kebaikkan, sedangkan kita tidak terbiasa berbuat kebaikkan klo tidak adak kejahatan.” Ujar Putri Salju Panik “Benar, jika para tokoh – tokoh itu berbuat baik maka, tak akan ada orang – orang yang menceritakan kebaikkan kita yang ada nama kita tenggelam oleh mereka.” Ujar Aladin dan Putri Yasmin menimpali “Betul, kita harus mengagalkan keinginan mereka agar mereka tidak bisa menggantikan kedudukkan kita di dunia nyata.” Ucap ke – Tujuh Kurcaci. Iya – iya setuju, ujar para tokoh dongeng itu. Mereka pun merencanakan hal yang selama ini belum pernah mereka lakukan. Mereka akan mengadu domba para tokoh dongeng yang memerankan peran jahat dan jika hal itu tidak berhasil mereka akan memasukkan ramuan ke dalam makanan dan minuman mereka, tentu saja ramuan tersebut buatan Ibu Peri yang terkenal akan kekuatan sihirnya dan bagi siapa saja yang meminumnya akan mempunyai sifat yang amat sangat jahat.
Sepasang mata Gagak kepunyaan Penyihir yang mengganggu Aladin terus memperhatikan tingkah laku mereka. Kemudian ia pun terbang sambil menggaok keras. “Hei lihat, itu Gagak kepunyaan Penyihir yang mengganggu Aladin!” Ucap Nenek dari Gadis Berkerudung Merah. “Pasti ia akan memberitahukan rencana kita pada tuannya, lebih baik aku panah ia agar ia mati.” Ujar Pangeran dalam dongeng Putri Tidur. “Hentikan! Jangan kau panah Gagak itu, jika kau panah ia sejarah kita sebagai tokoh dongeng yang baik akan tercoreng olehmu.” Perintah Dewa Neptunus. Dia pun urung memanah Gagak itu, Sang Gagak pun terbang bebas menuju tempat tuannya berada. 
“Maaf, karcisnya?” Pinta kondektur karcis. Aku tertegun, wah sudah sampai di stasiun Pasar Minggu rupanya, cepat juga ya batinku sambil menyerahkan karcisku untuk diperiksa. Saat itu kembaliku dengar suara wanita itu “Nia!! kau masih mendengarkan cerita mama!” Hardik wanita itu. “Dengar kok ma.. tapi sekarang ada om penagih karcis. Nia takut ma.. kita kan ngga punya karcis.” Ujar anak itu mencicit ketakutan. “Tenang Nia, om itu tidak akan menagih karcis kepada kita.” Ujar Wanita itu menenangkan anaknya. Benar saja, kondektur itu pun melewati begitu saja ibu dan anak itu. “Nah Nia, kamu masih ingin mendengar kelanjutannya?” Tanya wanita itu. “Masih Ma!” “Kalau begitu kamu masih ingat pesan mama diawal tadi?” “Masih, terus memperhatikan cerita mama, kalau tidak akan terhisap kedalam cerita dongeng yang mama ceritakan!” Ujar anak itu bersemangat. Wanita itu pun tersenyum dan melanjutkan ceritanya. Aku pun mulai menajamkan telingaku kembali agar cerita wanita itu sampai ke telingaku. 
Gagak itu pun sampai ke tempat tuannya, dengan segera ia menceritakan apa yang ia lihat dan ia dengar. Para tokoh dongeng itu amat marah, mereka pun menyusun rencana agar tidak terjebak dalam rencana para tokoh dongeng yang tidak menyukai mereka. Kemudian Penyihir yang mengganggu Aladin meminta Gagak untuk menyampaikan pesan peperangan kepada para tokoh dongeng yang tidak menyukai mereka. Gagak pun pergi kembali ke tempatnya mencuri dengar.
Para tokoh yang menerima pesan itu pun menyiapkan diri dalam peperangan tersebut. Mereka pun akan bertemu di lembah kematian. Tiba – tiba aku menyadari bahwa kereta telah sampai di stasiun Depok. Aku ingin segera turun tapi aku juga penasaran dengan kelanjutan cerita wanita itu. Akhirnya aku memilih untuk tidak mendengarkan cerita wanita itu dan segera turun bersama penumpang lainnya. Ketika aku melewati ibu dan anak itu, keduanya tersenyum sedih kepadaku, seolah – olah aku akan mendapatkan kemalangan. Aku hanya diam, memangnya bisa orang masuk ke dalam dongeng batinku. Huh itu hanya bualan wanita itu saja agar anaknya tidak nakal, pikirku. Tapi ketika satu kakiku melangkah keluar kereta menuju lantai stasiun, tiba – tiba dunia tempatku berpijak berputar dan seketika berubah menjadi tempat yang belum pernah kulihat. Di samping kiri – kananku bukan lagi para penumpang kereta yang lalu – lalang melainkan tebing – tebing yang tinggi. Di depan dan di belakangku, sekumpulan orang memegang beragam senjata tajam. Aku memperhatikan orang – orang tersebut, ternyata mereka adalah tokoh – tokoh dongeng. Belum sempat aku berpikir jernih, orang itu pun berteriak “Serbuu!!” Aku hanya dapat terdiam, kakiku seolah – olah terpancang kuat ke dalam bumi. Ketika sebuah pedang panjang milik Aladin akan mengenai ku, tiba – tiba sebuah suara  memanggil dan seperti menghentikan gerakan pedang itu.
”Sudahlah Andri.. cerita anda memang menarik. Tapi masih banyak hal yang harus saya kerjakan. Suster tolong berikan suntikan penenang pada pasien ini!” Ujar laki – laki berjas putih itu. “ Eh, saya ngga bohong saya sunguh-sungguh!!” Ujar ku berusaha meyakinkan dan sambil berusaha melepaskan ikatan ditanganku. “Iya, saya percaya makanya sekarang tidur dulu ya.” Ucap suster itu sambil menyuntikkan sesuatu ketanganku. Tiba – tiba aku mengantuk amat sangat, sayup – sayup kudengar suara seseorang berbicara “Bagaimana Dok, kondisi anak saya?” “Kondisinya memprihatinkan, dia mengalami depresi sejak kehilangan ibunya. Apalagi dia pernah mengalami kecelakaan saat turun dari kereta sehingga mengalami gegar otak, mungkin karena itu dia berhalusinasi. Untuk sementara waktu lebih baik ..” Whooaah, aku tak dapat mendengar lagi, rasanya aku belum tidur berminggu – minggu, lebih baik aku tidur saja. 
Saat aku akan memejamkan mata, tiba – tiba aku melihat wanita dan anak itu lagi, mereka berdiri disampingku kemudian tersenyum kepadaku. Sebelum semuanya menjadi gelap aku mengucapkan selanat tidur pada mereka. Sayup – sayup aku mendengar suara mereka “Selamat tidur Andri.”

Leave a Reply