Ketika harus memilih

Bagi freelancer, blogger, pedagang dan pengusaha pasti antara sedih dan bahagia ketika menjelang Tunjangan Hari Raya (THR), sedih karena tidak dapat THR bahagia karena bisa berbagi kebahagian dengan orang lain.

Omong – omong teman – teman tau ngga sih asal  muasal THR?

Menurut sejarah, THR dulu diusulkan pertama kali oleh oleh Perdana Menteri sekaligus Menteri Dalam Negeri Indonesia ke-6, Soekiman Wirjosandjojo. Pak Soekiman Wirjosandjojo adalah tokoh Masyumi yang ingin menyejahterakan para pegawai PNS ketika akhir ramadhan dengan memberi THR.

THR yang diberikan pada PNS saat itu sebesar RP.125 sampai dengan RP. 200 (kalau disetarakan sekarang kira – kira 1, 1 juta hingga 1,75 juta rupiah). Dengan jumlah yang cukup besar tersebut, ternyata pemberian THR pada pertama kali tidak berjalan dengan lancar loh teman – teman. Karena, banyak pegawai diluar kepemerintahan protes berat karena tidak mendapatkan THR.

Seiring berjalannya waku, pemerintah mengatur tentang THR dalam Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan. Umumnya, THR akan diberikan kepada para pegawai yang telah melewati masa kerja minimal satu tahun dengan besaran THR yang didapat sama dengan satu bulan gaji. Lalu bagaimana dengan pegawai yang masa kerjanya tidak mencapai satu tahun? Maka, THR yang diberikan disesuaikan dan diberikan secara proporsional.




Kira – kira itu penjelasan singkat mengenai asal usul THR. Teman – teman yang mendapatkan THR harus bersyukur loh karena teman – teman bisa menggunakan uang THR untuk memenuhi kebutuhan teman – teman, dan memberikannya sebagai hadiah angpau kepada sanak saudara yang masih kecil.

Lalu bagaimana dengan kalau freelancer, blogger, pedagang dan pengusaha yang tidak mendapatkan THR? Yah, kalau boleh jujur sih, sedikit sedih karena tidak bisa mendapat THR. Tapi saya yakin, ada rejeki lain bagi para freelancer, blogger, pedagang dan pengusaha yang bisa menggantikan THR ini, karena ALLAH SWT pasti memberikan rezeki sesuai kapasitas dari hamba – hambanya (aamiin, semoga rejeki kita lancar ya ^^).

Walau ngga dapat THR, tapi saya tetap memberikan angpau kepada keponakan – keponakan saya. Rasanya senang sekali melihat mereka bergembira menceritakan keberhasilan puasa sebulan penuh selama ramadhan. Ngga elok rasanya kalau saya ngga memberikan hadiah karena usaha mereka.

Tapi… yang jadi masalah, ketika yang ada di dompet saya, hanya ada satu – satunya uang berwarna merah, haruskah saya jadikan angpau atau tidak? Bagaimana dengan THR teman – teman?

sumber : boombastis.com

3 comments

  1. Wah, wah, waaah, Hana keren lho sampe ingat kapan THR mulai dicanangkan. Bunda aja belum and gak tau lho. Pensiunan juga terima THR lho, hehe….tapi pensiunan kayak bunda ini, yaitu THR-nya dari anak-anak dan para keponakan yang udah pada mapan. Yeeaaayy…bahagianya terima THR

Leave a Reply