Ada satu kalimat yang terus terngiang di kepala saya setelah mengikuti sebuah zoominar dua hari lalu bersama Nilam Sari.
“Jangan berpikir buruknya saja. Bagaimana kalau kamu berhasil dan terbang tinggi?”
Sederhana. Tapi entah kenapa, kalimat itu terasa seperti mengetuk sesuatu yang selama ini diam di dalam diri saya.
Dalam zoominar yang diselenggarakan oleh teh Ani Berta selaku Founder ISB dan Mba Nilam Sari sebagai womanpreneur dan Founder Kebab Baba Rafi, beliau bercerita tentang banyak hal tidak hanya perjalan karir dan bisnisnya tapi juga perjalanan hidupnya yang penuh jatuh bangun.
Menikah muda, membangun usaha dari bawah, menghadapi perpisahan dengan pasangan, berhasil memenangkan kesempatan kuliah S2 bahkan ketika belum memiliki ijazah S1 secara formal pada saat itu, kehilangan usaha serta aset, sehingga harus memulai kembali dari awal.
Yang paling membekas bagi saya bukan hanya pencapaiannya, tetapi bagaimana beliau menghadapi hidup.
Ada orang yang ketika diterpa masalah memilih berhenti. Ada juga yang tetap berjalan, meski perlahan, meski tertatih. Dan menurut saya, beliau adalah salah satu contoh nyata dari resilience itu sendiri.
Saya menyadari bahwa hidup tidak selalu memberi jalan lurus. Kadang kita dipaksa berhenti, kehilangan arah, bahkan meragukan diri sendiri. Tetapi dari cerita beliau, saya belajar bahwa keberanian bukan berarti tidak takut. Keberanian adalah tetap melangkah meskipun takut.
Saat sesi tanya jawab, saya memberanikan diri untuk bertanya.
Saya mengatakan bahwa saya sedang berada di titik ingin berpindah haluan dalam hidup. Saya sedang menghadapi sesuatu yang besar, sesuatu yang mungkin akan mengubah hidup saya sepenuhnya. Dan di usia yang tidak lagi muda, saya bertanya:
“Bagaimana cara meyakinkan diri untuk menapaki jalan ini?Am I ready for this?Am I ready for the consequences?”
Saya pikir beliau akan menjawab dengan sesuatu yang formal atau motivasional seperti kebanyakan seminar. Tetapi jawabannya justru terasa sangat manusiawi.
Beliau tidak menyangkal rasa takut itu.
Beliau hanya mengingatkan saya untuk tidak terus-menerus membayangkan kemungkinan buruknya saja.
Karena bagaimana jika ternyata saya berhasil?
Bagaimana jika jalan yang terlihat menakutkan ini justru membawa saya terbang lebih tinggi daripada yang pernah saya bayangkan?
Dan kalimat terakhirnya yang paling saya ingat:
“Hadapi saja. Semuanya akan berlalu.”
Sejak selesai zoominar itu, saya jadi banyak berpikir.
Mungkin selama ini saya terlalu sibuk menghitung risiko, sampai lupa memberi ruang pada kemungkinan baik. Terlalu fokus pada “bagaimana kalau gagal”, sampai lupa bertanya “bagaimana kalau berhasil?”
Hidup memang tidak pernah memberikan kepastian penuh sebelum kita melangkah. Tetapi mungkin memang seperti itu prosesnya. Kita tidak harus menjadi sepenuhnya siap untuk memulai.
Kadang kita hanya perlu cukup berani untuk berjalan.
Dan sisanya, akan kita pelajari di perjalanan.
Dan mungkin… saya juga sedang belajar melakukan hal yang sama.
.jpeg)
